Friday, June 5, 2015

Salam dari Pangkalpinang

Assalamu'alaikum wr. wb.
Duh, ini blog udah banyak debunya. Udah berapa lama ya engga nge-blog? Lama banget kayaknya. Hee...

Baiklah mulai sekarang mari kita ramaikan lagi blog ini.

Hari ini, saya mau cerita tentang kepindahan saya sekeluarga ke Pulau Bangka. Tepatnya ke kota Pangkalpinang.

Saya pindah kesini karena saya harus bertugas disini. Lho, koq aneh ya? Biasanya istri yang ikut suami, ini koq suami yang ikut istri? Yaa... Beginilah kami. Komitmen kami. Siapa yang lebih dulu punya kerjaan jauh, yang lain harus ikut. Dan kebetulan saya duluan yang harus keluar dari Bogor.

Setelah penantian selama 5 tahun, dan 3 kali ikut ujian CPNS Kemenhut, akhirnya bisa lolos di percobaan ketiga. Alhamdulillah...

Tepat hari Jumat yang lalu, kami sekeluarga tiba di Pangkalpinang. Setelah muter-muter cari kostan bersama rekan dari kantor, akhirnya kami memustuskan untuk tinggal tidak jauh dari kantor. Hanya sekitar 2-3 menit berjalan kaki. Memang, harga kostannya lebih mahal daripada kostan yang lain. Tapi pertimbangan kami adalah dekat dengan kantor, dan lingkungan - semoga - cukup baik untuk Mikail. Setidaknya kalau dia rewel merengek ingin ke ibunya, tidak terlalu jauh.

Pangkalpinang ternyata panas. Wiihh... Selama beberapa hari kegerahan. Tapi sekarang sedikit demi sedikit tubuh sudah beradaptasi. Tidak lagi merasakan panas yang berlebihan.

Disini biaya hidup lebih mahal daripada Bogor. Bagaimana tidak, bawang merah saja Rp. 50.000/kg. Sayuran hijau Rp. 10.000/kg. Ckckckck. Tapu meskipun mahal, lebih murah masak sendiri daripada beli di luar. Pernah syok, makan di warung biasa berdua harus bayar Rp. 45.000. Ha! Biasanya kan di warteg paling cuma Rp.20.000.

Tapi Alhamdulillah, rang sini ramah-ramah. Senyum selalu tersungging saat berpapasan di jalan. Rekan sekantor juga.

Sayangnya, angkot disini mahal. Jauh dekat tarifnya sama Rp. 5000. Jadi, sayang di ongkos kalau mau jalan ke swalayan. Hehe... Disini kebanyakan masyarakatnya menggunakan motor sebagai alat transportasi. Jadi mahal deh angkotnya. Sepertinya sih begitu.

Di Pangkalpinang ini sebenarnya semua sudah lengkap. Dekat pasar, RS, puskesmas, swalayan, karaoke, tempat wisata. Tapi sayang, tak ada bioskop disini. Bagi kami yang lebih suka hiburan nonton, jadi terasa kurang. Haha.

Apalagi ya? Untuk sekarang, cukup sekian dulu deh. Mudah-mudahan ke depannya saya lebih sering meng-update blog ini. ^^

Monday, July 21, 2014

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama


Saya ingin berbagi pengalaman pertama kalinya menjadi ibu. Setelah menikah saya langsung dinyatakan mengandung. Proses kehamilan dijalani seperti wanita hamil pada umumnya tapi tanpa merasakan apa yang disebut-sebut orang sebagai ngidam (dalam post sebelumnya telah saya bahas mengenai ngidam).

Saat usia kandungan baru mau menginjak usia 8 bulan, pada tanggal 2 Desember 2011 tengah malam saya merasakan ada keanehan pada air urine saya. Keesokan harinya saya memerikakan diri ke bidan dan dinyatakan bahwa sudah terjadi pembukaan 1, dan saya pun dirujuk ke RS pemerintah. Singkst cerita, setelah 2 hari di RS pemerintah saya tidak ditangani, tengah malam tanggal 4 Desember 2011 saya pun pindah ke RS swasta khusus ibu dan anak dengan status “gawat janin”. Sesampainya di RS tersebutpun saya belum bisa ditangani karena saya masih dalam kondisi demam yang tidak memungkinkan untuk diakukan tindakan operasi.

Setelah diberi obat 2 kali dan menunggu sampai pagi, akhirnya tindakan pun dilakukan pada pukul 09.00 dan Alhamdulillah lahirlah putra kecil kami3 pada pukul 09.29. Perasaan campur aduk, senang, haru, sedih, tapi yang jelas plong, gak ada lagi ganjalan di hati.

Ternyata sebelum masuk ruang operasi dokter menyatakan bahwa kemungkinan hidup untuk saya dan bayi saya adalah 50:50, karena penanganan yang terlambat sejak awal. Air ketuban di dalam rahim sudah berwarna hijau dan terinfeksi bakteri. Detak jantung janin di atas normal, dan janin kekurangan oksigen di dalam rahim. Sehingga, putra saya pun harus dimasukkan ke dalam inkubator selama 12 hari dengan diberi oksigen tambahan dan di infus.

Saya memang di operasi untuk mengeluarkan bayi, tidak normal seperti kebanyakan perempuan. Tapi Alhamdulillah saya merasakan juga yang namanya mules-mules atau kontraksi sampai saya tidak kuat menahannya dan sudah tidak sadar dengan keadaan sekitar. Alhamdulillah saya merasakan perjuangan ibu saya ketika melahirkan saya dan juga perjuangan ibu-ibu lain untuk memberikan kehidupan pada anaknya. Dan proses melahirkan yang baru saya rasakan ini pun membuat saya semakin mencintai ibu saya.
Berdasarkan pengalaman yang saya alami, saya bisa mengambil hikmah dan menyarankan kepada calon ibu untuk memperhatikan beberapa hal:

  • Jaga terus kondisi badan, cek kesehatan janin setiap bulan mutlak diperlukan.
  •  Persiapkan tabungan untuk biaya melahirkan, apalagi melalui oprasi yang memerlukan banyak biaya.
  • Pilih RS yang benar-benar berkualitas, harga/biaya itu pasti sesuai dengan pelayanan. Bukan menjelekkan, tapi berdasarkan pengalaman yang saya alami, RS pemerintah sungguh mengecewakan dalam pelayanan.
  • Yang paling penting apabila air ketuban sudah merembes keluar, walaupun belum masuk waktu melahirkan, sebaiknya segera pergi ke RS untuk dilakukan tindakan. Sebab jika telat bisa membahayakan janin dan juga ibu.
Dan tak kalah pentingnya, selalu berdoa agar diberi perlindungan oleh Allah SWT dalam proses melahirkan baik secara normal maupun operasi.

Dan inilah putra pertama kami, MIKAIL RIZKI MUHARRAM HERDIANTO.


 Tatapan pertama untuk Ambu-nya ^^

Sunday, July 20, 2014

Tirai Rindu - Part 1

Duh, aku kesiangan lagi! Huft, seharusnya tadi malam aku tak menonton tv sampai larut. Aku lupa kalau hari ini aku piket. Setelah selesai mandi, segera aku bergegas menuju sekolahku yang jaraknya hanya 500 m saja dari rumah. Sampai di sekolah aku langsung naik ke kelasku 3 IPA 2 yang berada dilantai 2. Ku lirik jam ditangan menunjukan pukul  6.45 pas.

“Huh, capeknya, untung baru beberapa orang yang datang.” Batinku.

“Sudah tau piket kelas, datang jam segini!” sebuah suara mengagetkanku.
“Apaan sih? Rese banget deh, yang namanya kesiangan mau gimana lagi!” aku membalas kata-katanya dengan sewot. Sial, ini cowo rese banget sih. Pendiam tapi sekalinya ngomong bikin orang sakit hati.

“Hey Yasmin, kenapa kamu telat? Aku, Mira, dan Fery sudah menyelesaikan smua tugas piket kita.” Ujar Miko membuyarkan lamunanku.
“Oh, maaf Ko. Aku bangun kesiangan. Semalam aku tidur larut, dan kebetulan aku sedang tidak shalat, jadi kebablasan deh bangunnya.”

“Iya nggak apa-apa. Tapi, memangnya ngapain kamu semalam sampai telat bangun gitu?”
“Nonton film di tv, ada actor favoritku semalam. Hehe.”

“Dasar kamu. Eh, tadi si Fery bilang apa sama kamu? Koq kamu keliatannya keki  banget?”
“Iya tuh Ko temen kamu rese banget dia. Huh, bikin aku sebal saja. Bikin sakit hati ngomongnya. Aku kan gak sengaja datang terlambat.” Ujarku sambil memanyunkan bibir.

“Udah, udah, bibirnya jangan manyun donk, jelek tau.” Miko berkata sambil mencubit pipiku gemas.
“Aww, sakit tau!”  Miko pun berlari menghindar karna takut aku balas.

Satu per satu teman sekelasku berdatangan, dan tak lama pukul 7.00 bel tanda pelajaran akan dimulai pun berbunyi. 
Hari ini hari Rabu, dan pelajaran pertama adalah Matematika, pelajaran kesukaanku sejak SD dulu. Hmm, tapi hari ini konsentrasiku berkurang, aku masih saja memendam kekesalanku pada kata-kata teman laki-laki yang duduk di sebrang mejaku. Iya, dia Fery. Teman laki-laki yang baru ku kenal saat masuk di kelas ini. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia di sekolah. Dia tipe orang pendiam. Jarang sekali bicara. Kalau ada yang bertanya atau dia ada keperluan, baru dia bicara. Tapi tak jarang omongan yang keluar dari mulutnya membuat orang lain sakit hati. Seperti yang dia lakukan tadi pagi terhadapku.

“Yasmin, kamu kerjakan soal nomor 2 di papan tulis!”
“Eh, iya bu.” Ya ampun, aku belum ngerjain nih, gimana dong? Ugh, gara-gara dia. 
*** 
 
~Bersambung~
 

Template by Bloggercandy