Monday, July 21, 2014

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama


Saya ingin berbagi pengalaman pertama kalinya menjadi ibu. Setelah menikah saya langsung dinyatakan mengandung. Proses kehamilan dijalani seperti wanita hamil pada umumnya tapi tanpa merasakan apa yang disebut-sebut orang sebagai ngidam (dalam post sebelumnya telah saya bahas mengenai ngidam).

Saat usia kandungan baru mau menginjak usia 8 bulan, pada tanggal 2 Desember 2011 tengah malam saya merasakan ada keanehan pada air urine saya. Keesokan harinya saya memerikakan diri ke bidan dan dinyatakan bahwa sudah terjadi pembukaan 1, dan saya pun dirujuk ke RS pemerintah. Singkst cerita, setelah 2 hari di RS pemerintah saya tidak ditangani, tengah malam tanggal 4 Desember 2011 saya pun pindah ke RS swasta khusus ibu dan anak dengan status “gawat janin”. Sesampainya di RS tersebutpun saya belum bisa ditangani karena saya masih dalam kondisi demam yang tidak memungkinkan untuk diakukan tindakan operasi.

Setelah diberi obat 2 kali dan menunggu sampai pagi, akhirnya tindakan pun dilakukan pada pukul 09.00 dan Alhamdulillah lahirlah putra kecil kami3 pada pukul 09.29. Perasaan campur aduk, senang, haru, sedih, tapi yang jelas plong, gak ada lagi ganjalan di hati.

Ternyata sebelum masuk ruang operasi dokter menyatakan bahwa kemungkinan hidup untuk saya dan bayi saya adalah 50:50, karena penanganan yang terlambat sejak awal. Air ketuban di dalam rahim sudah berwarna hijau dan terinfeksi bakteri. Detak jantung janin di atas normal, dan janin kekurangan oksigen di dalam rahim. Sehingga, putra saya pun harus dimasukkan ke dalam inkubator selama 12 hari dengan diberi oksigen tambahan dan di infus.

Saya memang di operasi untuk mengeluarkan bayi, tidak normal seperti kebanyakan perempuan. Tapi Alhamdulillah saya merasakan juga yang namanya mules-mules atau kontraksi sampai saya tidak kuat menahannya dan sudah tidak sadar dengan keadaan sekitar. Alhamdulillah saya merasakan perjuangan ibu saya ketika melahirkan saya dan juga perjuangan ibu-ibu lain untuk memberikan kehidupan pada anaknya. Dan proses melahirkan yang baru saya rasakan ini pun membuat saya semakin mencintai ibu saya.
Berdasarkan pengalaman yang saya alami, saya bisa mengambil hikmah dan menyarankan kepada calon ibu untuk memperhatikan beberapa hal:

  • Jaga terus kondisi badan, cek kesehatan janin setiap bulan mutlak diperlukan.
  •  Persiapkan tabungan untuk biaya melahirkan, apalagi melalui oprasi yang memerlukan banyak biaya.
  • Pilih RS yang benar-benar berkualitas, harga/biaya itu pasti sesuai dengan pelayanan. Bukan menjelekkan, tapi berdasarkan pengalaman yang saya alami, RS pemerintah sungguh mengecewakan dalam pelayanan.
  • Yang paling penting apabila air ketuban sudah merembes keluar, walaupun belum masuk waktu melahirkan, sebaiknya segera pergi ke RS untuk dilakukan tindakan. Sebab jika telat bisa membahayakan janin dan juga ibu.
Dan tak kalah pentingnya, selalu berdoa agar diberi perlindungan oleh Allah SWT dalam proses melahirkan baik secara normal maupun operasi.

Dan inilah putra pertama kami, MIKAIL RIZKI MUHARRAM HERDIANTO.


 Tatapan pertama untuk Ambu-nya ^^

Sunday, July 20, 2014

Tirai Rindu - Part 1

Duh, aku kesiangan lagi! Huft, seharusnya tadi malam aku tak menonton tv sampai larut. Aku lupa kalau hari ini aku piket. Setelah selesai mandi, segera aku bergegas menuju sekolahku yang jaraknya hanya 500 m saja dari rumah. Sampai di sekolah aku langsung naik ke kelasku 3 IPA 2 yang berada dilantai 2. Ku lirik jam ditangan menunjukan pukul  6.45 pas.

“Huh, capeknya, untung baru beberapa orang yang datang.” Batinku.

“Sudah tau piket kelas, datang jam segini!” sebuah suara mengagetkanku.
“Apaan sih? Rese banget deh, yang namanya kesiangan mau gimana lagi!” aku membalas kata-katanya dengan sewot. Sial, ini cowo rese banget sih. Pendiam tapi sekalinya ngomong bikin orang sakit hati.

“Hey Yasmin, kenapa kamu telat? Aku, Mira, dan Fery sudah menyelesaikan smua tugas piket kita.” Ujar Miko membuyarkan lamunanku.
“Oh, maaf Ko. Aku bangun kesiangan. Semalam aku tidur larut, dan kebetulan aku sedang tidak shalat, jadi kebablasan deh bangunnya.”

“Iya nggak apa-apa. Tapi, memangnya ngapain kamu semalam sampai telat bangun gitu?”
“Nonton film di tv, ada actor favoritku semalam. Hehe.”

“Dasar kamu. Eh, tadi si Fery bilang apa sama kamu? Koq kamu keliatannya keki  banget?”
“Iya tuh Ko temen kamu rese banget dia. Huh, bikin aku sebal saja. Bikin sakit hati ngomongnya. Aku kan gak sengaja datang terlambat.” Ujarku sambil memanyunkan bibir.

“Udah, udah, bibirnya jangan manyun donk, jelek tau.” Miko berkata sambil mencubit pipiku gemas.
“Aww, sakit tau!”  Miko pun berlari menghindar karna takut aku balas.

Satu per satu teman sekelasku berdatangan, dan tak lama pukul 7.00 bel tanda pelajaran akan dimulai pun berbunyi. 
Hari ini hari Rabu, dan pelajaran pertama adalah Matematika, pelajaran kesukaanku sejak SD dulu. Hmm, tapi hari ini konsentrasiku berkurang, aku masih saja memendam kekesalanku pada kata-kata teman laki-laki yang duduk di sebrang mejaku. Iya, dia Fery. Teman laki-laki yang baru ku kenal saat masuk di kelas ini. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia di sekolah. Dia tipe orang pendiam. Jarang sekali bicara. Kalau ada yang bertanya atau dia ada keperluan, baru dia bicara. Tapi tak jarang omongan yang keluar dari mulutnya membuat orang lain sakit hati. Seperti yang dia lakukan tadi pagi terhadapku.

“Yasmin, kamu kerjakan soal nomor 2 di papan tulis!”
“Eh, iya bu.” Ya ampun, aku belum ngerjain nih, gimana dong? Ugh, gara-gara dia. 
*** 
 
~Bersambung~

Ayah a.k.a Bapak

Kali ini saya ingin membagi tentang kisah ayah saya. Melihat perjuangan ayahnya Mika a.k.a suami saya, membuat saya mengingat perjuangan ayah saya sendiri.
Ayah, yang biasa saya sebut dengan Bapak, adalah sosok yang sangat bertanggung jawab dan pekerja keras. Bapak yang berpendidikan rendah membanting tulang menafkahi anak dan istrinya, bahkan sekarang ditambah cucu. Bapak hanyalah seorang tukang tambal ban, tapi dia berhasil membuat kami tidak kelaparan.
Masih sering saya ingat, sewaktu saya kecil Bapak pernah bekerja sebagai kondektur bis waktu di desa. 

Bahkan kata Mama, Bapak pernah juga berjualan bakso. Kemudian Bapak memulai karirnya di dunia pertambalan ban ketika saya SD. Bapak bekerja di lain kecamata, karena di kampung, walaupun hanya lain kecamatan, jadi jaraknya lumayan jauh ditempuh dengan perjalanan kendaraan umum kurang lebih 4 jam, sehingga Bapak pun pulang ke rumah satu kali per 2 minggu. Setiap kali pulang, pasti saya dibawakannya oleh-oleh, jelly dan majalah anak-anak.

Tahun 1999, kami sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke kota Bogor. Bapak yang telah meninggalkan pekerjaannya dikampung, kemudian mencari pekerjaan kesana kemari dan sempat menjadi penjual kelapa di pasar, loper Koran, bahkan menjadi “pak ogah” dipertigaan jalan. Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat terpuruk, sehingga untuk makan pun, kami harus menunggu Bapak pulang di sore hari dengan membawa uang untuk membeli satu liter beras dan lauk sederhana (suka sedih kalo inget moment ini, hiks..). 

Betapa hebatnya perjuangan seorang Bapak untuk menafkahi anak dan istrinya. Sampai akhirnya Bapak menemukan tempat untuk kembali bekerja sebagai tambal ban, dan kehidupan kami berangsur-angsur membaik.

Sampai sekarang Bapak masih dengan profesinya sebagai tukang tambal ban, menafkahi istri dan memberikan jajan untuk cucu-cucunya,hehe..

Alhamdulillah, walaupun Bapak buka seorang berlimpah dengan harta, tapi beliau mampu menyekolahkan saya sampai mendapatkan gelar S1. Alhamdulillah juga saya sudah bisa sedikit memberikan kebanggaan pada Bapak. Semoga saya masih bisa memberikan kebanggaan-kebanggan lain untuk Bapak. Amin.
 

Template by Bloggercandy